Sabtu, 02 Oktober 2010

Sejarah singkat perkembangan Akupunktur


Orang orang Cina telah mempraktekkan akupunktur dan moxibusi selama beberapa ribu tahun yang lalu dan berita tentang itu telah sampai ke dunia luar. Orang luar pertama yang mendengar tentang hal itu adalah orang Korea pada awal abad ke 6 sebelum Masehi. Tidak lama setelah itu, misionaris Cina dan Korea memperkenalkan akupunktur kepada orang Jepang bersamaan dengan penyebaran agama Budha.

Dunia barat belum belajar mengenai pengobatan oriental ini sampai pada abad ke 17 dimana misionaris misionaris Jesuit datang ke Kanton untuk mengajarkan orang orang Cina mengenai agama Kristen. Mereka melihat akupunktur digunakan di sana.

  Istilah Akupunktur pertama kali digunakan oleh seorang dokter lulusan Universitas Leiden yang bernama Willem ten Rhijne (1647 – 1700). Setelah lulus menjadi dokter, ia bekerja pada Dutch East Indian Company (VOC) dan ditugaskan ke Jawa. Tidak lama setelah ia sampai di Jawa, ia diperintahkan untuk pergi ke Pulau Deshima di Teluk Nagasaki, Jepang selama 2 tahun. Di sana ia melihat dokter dokter Jepang menggunakan akupunktur dalam pengobatan. Pada saat itu jarum yang dipergunakan terbuat dari emas dan perak. Dia menulis buku dalam bahasa Latin berjudul Disertatio de Arthride: mantissa schematica: de Acupunctura setelah ia meninggalkan Nagasaki pada tanggal 27 Oktober 1676 dan kembali ke Jawa, kemudian buku tersebut diterbitkan di London dan Leipzig pada tahun 1683. Pada akhir masa hidupnya, ia menjadi direktur Leprosarium sampai ia meninggal di Batavia pada tanggal 1 Juni 1700.

Di Amerika Serikat, Akupunktur telah berkembang lama dalam lingkungan China town di San Fransisco dan New York.  Akupunktur mulai terkenal secara luas sejak seorang wartawan New York Times yang bernama James Barrett Scotty Reston pada bulan Juli tahun 1971 menulis pengalamannya dimana seorang dokter Cina yang bernama Li Chang-yuan menggunakan akupunktur untuk menghilangkan rasa nyeri yang dialaminya setelah menjalani operasi Appendectomy (radang usus buntu) di RS Anti Imperialist – Beijing. Kemudian pada tahun 1972 Presiden Richard Nixon bersama dokter dokter Amerika melakukan kunjungan ke Cina dan menyaksikan operasi dengan menggunakan akupunktur analgesi sebagai prosedur anestesinya yang dilakukan oleh Professor Xin Yu-ling.
Di Indonesia, menurut Hembing, akupunktur sudah ada sejak rombongan ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1371 – 1435) masuk wilayah Indonesia dan berlabuh di  Semarang 600 tahun lalu. Dari 37.000 anak buah Cheng Ho yang menggunakan 300 perahu besar itu, dipastikan terdapat para tabib dan ahli akupunktur. Willem ten Rhijne (1647 – 1700) juga pernah melihat dokter Jepang mempraktekkan akupunktur di Jawa. Diperkirakan akupunktur semakin banyak dipakai sejak datangnya para imigran dari Cina pada abad ke 18. Pada saat itu akupunktur hanya dipraktekkan secara tertutup di kalangan masyarakat Cina dan praktisinya pun umumnya adalah seorang Shinshe / tabib (pengobat tradisional Cina).
Namun ketika pada tahun 1962 tim ahli akupunktur didatangkan dari RRC untuk mengobati Presiden Soekarno, maka keberadaan akupunktur pun mulai terdengar di kalangan umum. Apalagi karena kemudian Presiden Soekarno menyarankan para dokter Indonesia agar mempelajari ilmu tersebut, maka mulai menyebarlah ilmu akupunktur di Indonesia. Pada tahun 1963 atas instruksi Menteri Kesehatan masa itu, Prof. Dr. Satrio, Departemen Kesehatan meneliti dan mengembangkan cara pengobatan Timur, termasuk Akupunktur dan membentuk sebuah Tim Riset Ilmu Pengobatan Tradisional Timur . Maka mulai saat itu praktek akupunktur diadakan secara resmi di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta yang kemudian berkembang menjadi sebuah Sub Bagian Akupunktur di bawah bagian Penyakit Dalam, dan selanjutnya memisahkan diri menjadi Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan akhirnya berganti nama menjadi Departemen Medik Akupunktur hingga saat ini. Departemen ini secara rutin menerima dokter umum yang berminat mempelajari akupunktur untuk dididik menjadi dokter spesialis Akupunktur Medik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar