Sabtu, 02 Oktober 2010

Apakah Akupunktur Medik itu ?

AKUPUNKTUR MEDIK

dr. Martin Ganda, Sp. AK
RSUD Cengkareng


Pendahuluan

            Akupunktur telah digunakan sejak beberapa ribu tahun yang lalu untuk mengobati berbagai macam penyakit dan gejala. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menerangkan mekanisme kerja akupunktur secara ilmiah. Konsep akupunktur telah berkembang dari Konsep Tradisional Klasik menjadi Konsep Akupunktur Medik yang diterapkan berdasarkan kaidah kedokteran konvensional. Akhir akhir ini Ilmu Biomedik telah berusaha mengetahui dan membuka rahasia Akupunktur Medik dalam penggunaan Akupunktur sebagai terapi dari berbagai penyakit. Salah satu hasil penelitian Ilmu Biomedik menunjukkan bahwa titik akupunktur mengandung banyak ujung ujung saraf, sel mast, saluran limfatik dan kapiler. Titik akupunktur juga mempunyai tahanan listrik yang lebih rendah daripada jaringan sekitarnya.
Ketidakseimbangan neurotransmitter dalam tubuh berperan dalam patologi terjadinya penyakit. Apabila ketidakseimbangan ini terus berlanjut maka dapat menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme dan imunomodulator. Hal inilah yang  mendasari timbulnya beberapa penyakit seperti pada penyakit yang berhubungan dengan nyeri, gangguan sistem organ, gangguan sistem imun, gangguan gerak dan penyakit metabolik. Hasil penelitian Ilmu Biomedik selanjutnya menemukan bahwa kadar dari beberapa neurotransmitter seperti β endorfin, enkefalin, serotonin (5 Hidroksi Triptamin) dan dopamin pada plasma dan jaringan otak meningkat setelah tindakan akupunktur. Selain itu akupunktur juga mempunyai efek imunomodulator pada sistem imun dan efek lipolitik pada sistem metabolisme. Oleh karena kemampuannya menimbulkan efek tersebut maka akupunktur dapat digunakan sebagai pengobatan berbagai penyakit yang berhubungan dengan gangguan sistem saraf, nyeri, gangguan metabolisme, sistem organ, sistem imun, psikosomatik dan rehabilitasi. Penusukan jarum akupunktur dapat digunakan sebagai strategi terapi pada berbagai penyakit melalui sekresi neurotransmitter tersebut.

Sifat titik akupunktur

            Menurut Ilmu Biomedik, titik akupunktur merupakan titik pada jaringan tubuh yang padat akan jaringan dan ujung ujung saraf, sel mast, kapiler serta saluran limfatik. Kulit dan jaringan otot akan terlibat dalam penusukan jarum akupunktur. Menurut Melzack (1977) 70 – 80 % titik akupunktur tidak berbeda dengan titik nyeri dan titik otot motorik. Titik akupunktur juga mempunyai potensial listrik yang lebih tinggi dibanding dengan titik lainnya. Dengan alat galvanometer dapat dibuktikan bahwa titik akupunktur merupakan titik yang berenergi tinggi. Pemeriksaan Histologis pada preparat yang diambil dari 34 lokasi di kulit, dimana 11 diantaranya adalah lokasi titik akupunktur, ditemukan bahwa terdapat 2 jenis titik akupunktur yakni resertor dan efektor. Penemuan ini didasari oleh distribusi reseptor somatosensorik dan dari sejumlah ujung ujung saraf bebas.   

Efek akupunktur

            Beberapa penelitian baik pada hewan percobaan maupun manusia menunjukkan bahwa penusukan akupunktur dapat memberikan berbagai respons biologis. Reaksi ini bisa bersifat lokal (di sekitar titik penusukan), regional dan sistemik. Reaksi ini terjadi akibat reaksi titik akupunktur terhadap jaringan saraf mulai dari perifer sampai sentral. Jaringan saraf dapat berkomunikasi satu dengan yang lain melalui neurotransmitter di sinaps. Stimulasi terhadap jaringan saraf di perifer akan dilanjutkan ke sentral melalui medulla spinalis, batang otak, menuju hipothalamus dan hipofise. Stimulasi yang sampai di otak akan menyebabkan sekresi berbagai neurotransmitter seperti β endorfin, norepinefrin, enkefalin dan 5 Hidroksi Triptamin yang berperan sebagai inhibisi sensasi nyeri. Sekresi neurotransmitter ini juga berperan dalam sistem imun sebagai imunomodulator serta perbaikan fungsi organ lainnya. Tindakan akupunktur juga melibatkan sebagian dari susunan saraf pusat termasuk sensasi dan fungsi otonom yang berhubungan dengan tekanan darah, sirkulasi darah dan regulasi suhu tubuh.

Mekanisme Kerja Akupunktur

          Reaksi akupunktur secara umum dapat dijelaskan melalui 3 tingkatan, yaitu reaksi lokal, segmental dan sentral.
      1. Reaksi lokal :

            Penjaruman menyebabkan mikrotrauma. Selanjutnya jaringan melepaskan mediatornya untuk memperbaiki kerusakan jaringan dengan segera dan memulai reaksi biokimia berantai yang cepat. Mediator pada reaksi berantai ini adalah histamin, serotonin, kinin, limfokinin, leukotrien dan prostaglandin. Efeknya terbatas hanya secara lokal. Mediator tersebut jarang menyebabkan reaksi jauh. Mikrotrauma tersebut juga menyebabkan pelepasan neuropeptida Calsitonine Gene Related Peptide (CGRP),  Substansia P anti inflamasi dan β endorfin lokal. CGRP dalam jumlah besar menyebabkan reaksi pro inflamasi, tetapi sebaliknya CGRP dalam jumlah kecil mempunyai efek anti inflamasi. Pemberian terapi akupunktur dengan perangsangan yang lemah dapat menyebabkan pelepasan CGRP yang mempunyai efek anti inflamasi tanpa merangsang sel – sel pro inflamasi. β endorfin merangsang sel T helper 2 untuk menghasilkan Inter Leukin 10 yang dapat  mengurangi reaksi inflamasi. β endorfin juga berfungsi mengurangi rasa nyeri. (Zijlstra F J, Lange I B, Huygen F J P M, Klein J , 2003). (Lihat gambar 1)        

   

Gambar 1 : Mekanisme akupunktur reaksi lokal

Sumber : Zijlstra F J, Lange I B, Huygen F J P M, Klein J, Anti-inflammatory actions of acupuncture, Mediators of Inflammation, Taylor & Francis health science, April 2003 ; 12 (2) : 66.







      2. Reaksi segmental :

          Penjaruman memicu gamma loop eferen pada kornu ventralis medulla spinalis yang  mengaktifkan saraf motorik somatik ke otot, dan saraf motorik otonom ke pembuluh darah dan ke organ organ dalam. Informasi aferen juga disalurkan ke medulla spinalis ke atas dan ke bawah menyebabkan refleks otot, nosiseptive dan viseral di sepanjang medulla spinalis dari tingkat segmental spinal dimana rangsangan tersebut dihasilkan. Neuron neuron yang berhubungan dengan sistem otot terdiri dari sebuah jalur yang dikenal sebagai gamma loop, yang penting untuk fungsi otot walaupun sinyal motorik volunter ditimbulkan oleh jalur yang turun dari otak. Reaksi regional terdiri dari aktivasi dari sebuah area yang luas (2 – 3 dermatom) melalui lengkung refleks. Refleks refleks ini adalah refleks visero-kutaneus (refleks splakno-fasial), refleks kutaneo-viseral, refleks visero-muskular dan visero-viseral (refleks somato-otonomik), refleks somatomotor (refleks kutaneo-muskular segmental) dan juga refleks vegetatif.
          Susunan Saraf manusia terdiri dari Susunan Saraf Pusat (SSP) dan Susunan Saraf Perifer. Susunan Saraf Perifer dibagi lagi menjadi Sistem saraf Otonom (SSO) dan Sistem saraf somatik. SSO terdiri dari sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Juga ada 12 saraf cranial yang berasal dari dalam otak yang berasal dari batang otak dan merupakan bagian dari SSO. Saraf otak dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari SSP dan juga Susunan Saraf Perifer. Susunan saraf viseral merupakan bagian dari SSO. (Lihat gambar 2).  Nukleus saraf cranial berada dalam cranium di atas foramen magnum dan medulla spinalis. Hanya saja ada kekecualian yaitu untuk traktus spinalis saraf trigeminal, turun ke medulla spinalis bagian cervical. Semua saraf perifer berasal dari medulla spinalis. Medulla spinalis merupakan jalur utama dari kebanyakan saraf.  (Lihat gambar 3) 



Gambar 2 : Pembagian Sistem saraf

Sumber : Cho Z H, Wong E K, Faloon J, Neuro-Acupuncture Scientific evidence of Acupuncture revealed, Q-puncture, Inc., Los Angeles 2001 ; 103.















Gambar 3 : Saraf perifer yang keluar dari Medulla spinalis

Sumber : Cho Z H, Wong E K, Faloon J, Neuro-Acupuncture Scientific evidence of Acupuncture revealed, Q-puncture, Inc., Los Angeles 2001 ; 102.

          Banyak gejala dan efek akupunktur yang dapat dijelaskan melalui neurofisiologis dari persarafan segmental. Terapi segmental digunakan terutama untuk gejala gejala segmental dan fungsional, memodulasi nyeri dan pengobatan simtomatis dari gejala gejala struktural. Sebuah segmen terdiri dari sebuah dermatom, sebuah miotom, sebuah sklerotom dan sebuah viserotom. Semua bagian ini berhubungan satu dengan yang lain melalui persarafan yang sama, dan melalui persarafan ini setiap bagian dari sebuah segmen mampu mempengaruhi bagian lain dalam satu segmen. Dalam terapi akupunktur segmental, seseorang menggunakan titik titik akupunktur yang secara neuroanatomi  berhubungan dengan segmen yang terganggu. Pada prinsipnya, titik titik ini berada pada dermatom, miotom, sklerotom dari segmen yang terganggu.
          Penelitian kedokteran barat terhadap akupunktur banyak difokuskan pada dasar neurokimia saja dari akupunktur analgesia dan SSP. Dalam melakukan penelitian tersebut, mereka telah mengabaikan Sistem saraf tepi dan beberapa petunjuk penting pada efektivitas akupunktur. Konsep keseimbangan Yin – Yang dalam Ilmu Pengobatan Tradisional Cina juga analog dengan keseimbangan sistem simpatis dan parasimpatis pada SSO. Gambar 4 memperlihatkan jalur sistem saraf simpatis yang mempersarafi organ organ dalam.  Penjaruman efektif dalam mengobati banyak penyakit yang resisten terhadap cara pengobatan barat dengan cara memakai Sistem saraf tepi.
          Beberapa penelitian telah mengkonfirmasikan bahwa terdapat sebuah keteraturan tertentu yang dapat diramalkan dalam manfaat terapeutik dari setiap titiknya, misalnya jarak terapeutik dari setiap titik bergantung terutama pada area yang dipersarafi oleh segmen saraf yang bersesuaian.  Setiap titik dapat diambil untuk mengobati penyakit penyakit organ yang terletak pada zona / area yang dipersarafi oleh segmen saraf yang sama atau berdekatan. Meridian meridian yang terletak membujur pada daerah dada, perut dan punggung termasuk diantaranya adalah Meridian Ren, Lambung, Hati, Ginjal, Kandung empedu, Kandung kemih dan Du, mempunyai hubungan tertentu secara teratur dengan persarafan segmental. Titik titik pada meridian Ren, Ginjal, Lambung, Du dan Kandung Kemih letaknya teratur dengan jarak tertentu (ukuran unit proporsional tubuh). Distribusi saraf saraf pada daerah punggung juga terletak dalam keteraturan segmental. Berdasarkan  fungsi dan efek dari titik titik Shu-belakang pada daerah punggung dan Mu depan pada daerah dada, indikasinya adalah identik dengan persarafan segmental dari saraf.


Gambar 4 : Persarafan Susunan Saraf Otonom ke organ organ internal.

Sumber : Gunn C C, Acupuncture and the peripheral nervous system. Dalam Filshie J White A, Medical Acupuncture – A Western Scientific Approach, Elsevier Churchill Livingstone, Philadelphia 2004 ; 142.

        3. Reaksi sentral :
Menurut Le Bars, Dickenson dan Benson (1979) terdapat suatu mekanisme neuronal yang disebut Diffuse noxious inhibitory controls (DNIC). DNIC berasal dari subnukleus retikularis dorsalis dalam medulla oblongata kaudal dan menghambat Substansia Gelatinosa. Sinyal penusukan dibawa oleh serabut somatik aferen ke medulla spinalis kemudian mengaktifkan Hipofise – hipothalamus sehingga  melepaskan β endorfin ke pembuluh darah dan cairan serebro spinalis, mengakibatkan meningkatnya analgesia fisiologis dan homeostasis berbagai macam sistem termasuk sistem imun, sistem kardiovaskular, sistem pernapasan dan perbaikan jaringan. Ia juga mensekresi ACTH dan hormon lainnya seperti Thyrotropin Releasing Hormone, Growth Hormone, Anti Diuretic Hormone, Folicle Stimulating Hormone, Luteinizing Hormone, Steroid Hormone dan lain lain. Hormon ini dapat merangsang pembentukan kortisol yang berguna untuk memodifikasi sensasi nyeri dan reaksi imun. (Lihat gambar 5)


Gambar 5. Mekanisme sentral akupunktur yang berhubungan dengan analgesia, homeostasis, nyeri dan reaksi imun.

Sumber : Kolegium Akupunktur Indonesia, Akupunktur Medik dan Perkembangannya, Jakarta 2009 ; 6.

Aplikasi Klinik

Akupunktur sudah lama digunakan secara luas dalam bidang kedokteran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan area yang luas dalam penggunaan Akupunktur untuk  pengobatan masalah kesehatan, meliputi :
·        Gangguan saraf dan otot
·        Gangguan pernapasan
·        Gangguan pencernaan
·        Gangguan sistem reproduksi
·        Gangguan fisik yang berhubungan dengan ketegangan dan stress emosional
·        Gangguan sistemik dan fungsional
·        dll.

Beberapa penyakit yang biasanya ditangani oleh akupunktur adalah sebagai berikut :
1.      Cephalgia
2.      Migren
3.      Brachialgia
4.      Low Back Pain
5.      Fibromyalgia
6.      Ischialgia
7.      Arthitis
8.      Frozen shoulder
9.      Neuralgia Pasca Herpetica
10.  Trigeminal Neuralgia
11.  Dysmenorrhoea
12.  Bell’s palsy / Paralisis fascialis
13.  Tic fascialis
14.  Stroke
15.  Vertigo
16.  Asma Bronchiale
17.  Rhinitis alergika
18.  Dyspepsia
19.  Diabetes Melitus
20.  Insomnia
21.  Infertiliti
22.  Hipertensi
23.  Hiperemesis gravidarum
24.  Tinnitus
25.  Obesitas
      dll.

Jumlah pengobatan yang diperlukan adalah berbeda pada setiap orang tergantung kondisi gangguan / penyakitnya. Pada penyakit yang baru biasanya diperlukan 1 seri terapi, sedangkan pada penyakit yang lebih lama memerlukan beberapa seri terapi. Satu seri terapi terdiri dari 10 – 12 kali kunjungan. 
Kesimpulan

            Dari sudut pandang Ilmu Biomedik, terapi akupunktur adalah berdasarkan  kepada :
1.      Adanya sinyal elektrik melalui konduksi jaringan saraf yang akan menstimulasi sekresi biokimiawi dan neurotransmitter yang berperan baik sebagai analgesik maupun dalam stimulasi sistem imun atau imunomodulator.
2.      Terjadinya aktivasi sistem endogen opioid di Susunan saraf pusat yang mengakibatkan inhibisi eksitatorik sebagai analgesik.
3.      Adanya perubahan sensasi yang mengakibatkan perubahan fungsi saraf otonom tubuh melalui perubahan komponen biokimiawi dan neurotransmitter dan neuroendokrin di otak.


Penutup

Akupunktur masih terus dipakai dan dikembangkan sejak dari jaman dahulu sampai sekarang, karena baik secara empiris maupun dari penelitian penelitian ilmiah, hasilnya sangat membantu manusia untuk mendapatkan kesehatan yang prima. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Akupunktur adalah suatu terapi pilihan dalam pengobatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar